Di Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya Malang ada Museum HAM Munir yang berada di gedung B, lantai satu.
Berada di museum itu seperti diajak ke lorong waktu untuk melihat kiprah almarhum Munir yang dikenal sebagai pejuang HAM yang meninggal karena di racun dalam perjalanan ke Belanda saat di pesawat.
Almarhum adalah alumnus FH UB.
Dalam museum itu ada foto almarhum Munir, sosoknya, keluarga, perjuangannya sebagai aktivis.
Ia dikenal lekat dengan kasus buruh Marsinah dan sebagai pendiri Kontras.
Frida Asmin, mahasiswa FH UB angkatan 2021 mengaku sedang ngepoin skripsi Munir.
Skripsi itu termasuk menjadi barang yang dipamerkan di museum.
“Saya kan mahasiswa semester 7 yang sedang skripsi. Makanya saya terkesan dengan skripsi beliau,” kata Frida pada suryamalang.com.
Dari isi skripsi berjudul “Perlindungan Hukum Terhadap Buruh dalam Penetapan Upah di Perusahaan Industri” itu, almarhum tergambar sangat lantang.
“Saya perhatikan di skripsinya sangat empiris dan beliau turun di lapangan untuk itu untuk melihat hak-hak buruh,” kata mahasiswa yang termotivasi masuk FH UB karena tokoh Munir.
“FH UB itu salah satu pionirnya adalah almarhum Munir. Bisa saya berikan titelnya bahwa ada beliau, FH UB menjadi terbaik. Ketika saya masuk ke museum ini, saya merasakan ambience dan kehadiran beliau,” jelasnya.
Menurut Dr Muktiono SH MPhil, Wakil Dekan III FH UB pada suryamalang.com, Kamis (29/8/2024), finalisasi museum dilakukan sebulan terakhir bekejasama dengan tiga pihak yaitu UB, FH dan Yayasan Omah Munir.
“Kami bekerjasama dengan kurator untuk pengerjaan fisiknya. Karena kompeten di dalam hal itu untuk mengikuti standar yang ada. Sementara barang-barangnya yang dikurasi kebanyakan dari keluarga Munir. Tapi di FH itu ada pengembangan aspek digitalisasi. Digitalisasi ini bisa memperluas scopenya,” jelas Muktiono.
Materi digital itu bisa diperbanyak kontennya meski secara fisik terbatas.
“Jika diisi digital, maka kontennya bisa lebih besar kapasitasnya terkait konten-konten HAM secara luas,” jawabnya.
Keberadaan museum di perguruan tinggi memang targetnya untuk civitas akademika, yaitu mahasiswa.
Dikatakan, di FH perlu semacam penguatan soal HAM dan Munir.
Mungkin masyarakat umum akan canggung jika masuk ke kampus. Pendidikan HAM sebenarnya kewajiban negara, termasuk merawat ingatan kolektif pada masa lalu. Dan ini bagian dari pajak masyarakat. Maka masyarakat juga berhak mengakses dari museum ini,” tambahnya.
Otomatis, dengan alasan ini, museum ini juga untuk masyarakat.
Agar lebih dikenali, mengatasi kendala aksesibilitas, pihak FH UB akan melakukan sosialisasi yang lebih luas.
Baik pada institusi di lembaga pendidikan sekolah atau organisasi maysarakat sipil bisa datang ke sini.
Pihaknya akan mengusahakan ada pengembangan museum agar user friendly pada anak muda dengan digitalisasi memakai barcode.
Dimana barcode bisa dikoneksikan di microsite atau website yang dimiliki FH UB atau museum.
Jadi meski museumnya kecil secata fisik tapi bisa dikembangkan secara konten dari internet itu. . Sylvianita Widyawati
SUMBER
https://suryamalang.tribunnews.com/2024/08/29/ada-museum-ham-munir-di-fakultas-hukum-ub-malang-skripsi-almarhum-munir-juga-dipamerkan